PINTU YANG TERTUTUP


Kenapa kita selalu merenung kepada pintu yang tertutup? Terus-terusan kaku merenung pintu yang tertutup dengan harapan pintu itu kembali terbuka untuk kita?

Ada pula yang berharap kalau dapat diputarkan masa. Agar dapat membetulkan kembali diri yang tersasar arah. Agar dapat merungkai kekusutan yang tidak terungkai. Agar dapat melafaz kata yang tak terucap.

Elok saja kita biarkan pintu yang tertutup itu, tertutup selamanya. Kelak jika terbuka, pasti ada hati yang terluka. Kita atur sahaja langkah ke arah pintu-pintu yang terbuka. Kita pilih mana satu pintu yang terbaik untuk kita.

Kalau masa pula dapat di putar semula. Akan ada hati yang merana. Akan ada jiwa yang gundah gulana. akan ada raga yang merintih hiba.

Jangan dibuka pintu yang tertutup itu. Di balik sana telah ada penghuninya. Biar mereka dengan kegembiraan mereka. Kita iringi kebahgiaan mereka dengan titipan doa.

Pintu tertutup itu, telah ditakdirkan bukan untuk kita melaluinya. Redhalah.

Sesungguhnya aku telah redha. Aku harap kau pun begitu jua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s