petang…


Ralit aku memerhati rona-rona mentari petang yang sedang dalam perjalanannya meninggalkan aku. Desir angin membelai ruang dahiku yang semakin luas. Di dalam tali air itu aku lihat ada anak-anak sepat bermain buih.

Di tepi tali air yang sama juga ada dua tiga orang kanak-kanak beradu nasib membaling umpan, untung-untung ada yang sudi menjamah. Untung-untung adalah hendaknya keli, haruan, talapia, lampam atau anak puyu yang boleh dibuat lauk goreng malam nanti.

Angin masih kuat membuai dedaun pokok nibong di tengah bendang. Bau selut bendang adalah adalah aroma biasa untuk anak kampung seperti aku. Cuma aku tidak biasa bergelumang di dalamnya.

Di hujung sana aku nampak gunung keriang. Bukan gunung pun sebenarnya, tapi seketul bongkah batu kapur yang sangat besar tinggalan lautan yang memberi sebahagian dirinya kepada daratan.

Sawah di depanku ini luas walau tidak sayup mata memandang. Di atas batas lorong selut yang membahagi relung bendang itu, aku lihat ada seekor bangau putih. Sibuk mencari habuan sebelum terbang pulang ke sarang.

Aku melihat alam semakin kelam dan aku berada di dalamnya. Aku melihat alam dalam keterbatasan iris mata mentafsir cahaya, dalam keterbatasan darjah kornea yang memfokus pada satu bintik kuning mata.

Aku melihat alam dari pandangan mata hati yang sempit, dada yang sesak dan jiwa yang lohong. Kalut!

Alangkah indahnya andai alam dapat memahami aku…. yang serabut dan keliru…

titik….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s